Belajar Mengkompos di Rumbel Green Komunitas IP Batam

"Kita telah mengambil banyak dari tanah. Mari kita kembalikan sisa konsumsi organik kita untuk menutrisi tanah kembali" Sita Pujianto (Penggiat hidup minim sampah)

Mengkompos adalah cara kita untuk mengembalikan sisa konsumsi organik kita ke tanah dimana tempat ia tumbuh sebelumnya. Jaman dulu orangtua kita membuat juglangan semacam lubang di tanah untuk mengubur sampah organiknya, karena memang tidak ada petugas kebersihan seperti sekarang ini. Tapi dengan begitu justru tanah-tanah disekitanya menjadi subur.


Sekarang segalanya serba dipermudah, urusan sampah diserahkan ke petugas kebersihan. Tapi sayang nya sistem mengolah sampah di Negara kita masih menggunakan open dumping.  Semua jenis sampah dicampur dan di kubur di lahan TPA. Pencampuran sampah ini berbahaya loh, dapat mencemarkan air dan tanah juga menjadi sumber penyakit.

Saatnya kita memilah dan bahkan mengolah sendiri sampah organik yang kita. Caranya bagaimana ?   Dengan Mengkompos

Untuk urusan persampahan ini kita harus bergerak bersama, seperti hal nya Rumah Belajar Green (Rumbel Green) Komunitas Ibu Profesional Batam. Rumbel dengan member yang punya visi dan misi yang sama, dimana para member yang berisi Ibu-ibu yang ingin belajar dan sharing tentang hidup berkesadaran akan bahaya sampah yang tidak terakomodir dengan baik.

Selama empat hari berturut-turut ada empat member Rumbel Green yang berbagi pengalaman mereka memakai komposter dengan empat metode yang berbeda. Empat member yang terpilih untuk "sharing"  sudah menjalankan kegiatan mengkompos selama kurang lebih dua tahun. Tujuannya agar  member yang belum mulai mengkompos "ngiler" untuk ikutan mengkompos juga.

Nah ini dia empat metode mengkompos yang di "sharing" oleh member Rumbel Green Batam:

Compost Bag Easy Grow (Narsum oleh Alin Susiana)
Compost Bag Easy Grow credit by Alin Susiana

Design komposter ini seperti karung dengan "jendela" dibawah karung yang gunanya untuk memanen kompos yang sudah jadi. Setelah kita mengeluarkan kompos dari bawah karung maka sudah pasti kita bisa langsung memasukkan sampah organik kita lagi. Artinya kita tidak harus menunggu sampah yang lapisan atas terurai untuk bisa memanen pupuk komposter jenis ini.

  
Komposter Karung Sederhana (Narsum oleh Erli Oktania)
Komposter karung credit by Erli Oktania

Komposter jenis ini seperti Compost Bag Easy Grow versi murah dan mudah. Murah karena nyaris tidak mengeluarkan modal untuk membeli bahan komposter. Pemakaian yang mudah karena tidak perlu di aduk-aduk, cukup masukan sampah organik, tanah, dan daun kering.

Diskusi tambah menarik dengan membahas mulsa alami yaitu pelindung tanah terbuat dari bahan organik kering seperti kulit telur , kulit bawang, kulit buah ataupun sayur yang dikeringkan. Mulsa berguna untuk menjaga tanah agar tanah tidak terlalu lembab saat musim hujan dan tidak terlalu kering saat kemarau.  

Komposter FELITA (Narsum oleh Putri Pamelia)


Komposter Felita credit by Putri Pamelia

FELITA (Fermentasi Limbah Rumah Tangga) merupakan komposter menggunakan ember/drum dengan kran sebagai tempat mengeluarkan POC (Pupuk Organik Cair). Yuppp, jika menggunakan komposter jenis ini kita akan mendapatkan dua jenis pupuk. Pupuk padat dan pupuk cair. Termasuk jenis komposter anaerob ini tahan terhadap panas maupun hujan jika diletakkan di luar ruangan. 

Komposter Ember (Narsum oleh Safri Muza)


Komposter Ember 

Komposter ini hampir sama dengan komposter FELITA hanya saja tidak menggunakan. Jenis komposter aerob atau memerlukan udara, maka dari itu perlu dilubangi pada bagian bawah ember dan samping ember.  Hasil dari komposter ember adalah pupuk padat.

Menggunakan keempat jenis komposter  diatas diperlukan untuk  tiga unsur :
 ↪Unsur hijau yaitu sampah organik
↪ Unsur hitam yaitu tanah
↪ Unsur coklat yaitu daun-daun kering, ataupun bubuk sekam kering

Kalau ketiganya ini sudah lengkap, dijamin kompos kamu ga bakalan gagal.

Karena kegiatan baik seperti mengkompos ini harus kuat fondasi berfikirnya agar berkelanjutan, bukan hanya mengikuti trend  sesaat. Jadiiii diskusi hari terkhir ini lebih padat berisi dengan menguatkan Strong Why "Mengapa harus mengkompos?".

Nah ternyata dengan mengkompos sisa konsumsi yang biasanya masuk ke tong sampah dan berakhir di TPA serta menjadi sumber penyakit, bisa loh menjadi sedekah kita yang mengalir untuk bumi. Kita bisa menafkahi jutaan makhluk dan mikroorganisme didalam tanah dan memberikan nutrisi bagi tanah yang nantinya tanah tesebut kembali menafkahi kita dalam bentuk buah dan sayur. Masyaallah bener-bener simbiosis mutualisme dan keseimbangan alam.

Gimana? kamu sudah punya pilihan komposter untuk turut serta mengjaga keseimbangan alam?

0 komentar:

Posting Komentar