Resensi Buku Pembelajar Mandiri

Resensi Buku Pembelajar Mandiri ; Pernahkah mendengar  kata Homeschooling ? atau pada masa pandemi  covid19  begini malah lebih sering melihat flyer nya untuk mengetahuai serba serbinya. Dilihat dari makna harafiah seperti "belajar di rumah". Tapi tentu aja bukan begitu maksud sebenarnya. 

Sekitar tahun 2016-2017 aku sering membaca tulisan dari praktisi Homeschooling  dan aku tertarik untuk menjalaninya. Semenjak tertarik aku cari tahu tentang Homeschooling  yang merupakan salah satu metode belajar selain sekolah yang juga diakui sebagai pendidikan non formal oleh Negara. 




Qodarullah saat ikut workshop tentang Homeschooling aku dapat hadiah doorprice buku Pembelajar Mandiri yang ditulis oleh Yudis seorang homeschooler. 

Pembelajar Mandiri  bercerita tentang pengalaman Yudhistira Gowo Samiaji (Yudis) yang menempuh jalur pendidikan Homeschooling. Yudis dan keluarganya menyebut sebagai pembelajar mandiri atau pembelajar otodidak. 

Campur baur pengalaman Yudis selama menjalani Homeschooling tertulis dalam buku ini dengan bahasa yang ringan tidak terlalu teoritis. Mulai dari menginjak usia dini Yudis sudah resmi menjadi seorang Pembelajar Mandiri. Ayah dan Ibunya pun tidak menyewa guru private kerumah untuk mengajarkan Yudis. Mereka juga tidak menjadi guru bagi anak-anaknya. Lalu bagaimana Yudis belajar ?

Orangtua Yudis menyebut diri mereka sebagai fasilitator belajar anak. Yudis diarahkan untuk mencari tahu apa yang mau ia ketahui, belajar apa yang mau ia pelajari melalui buku maupun internet. Yudis juga belajar dengan cara Project Based Learning yang membuat ai terbiasa membuat rencana proyek dan mengeksekusinya sebagai alat untuk latihan mengembangan manajemen diri.


Pasti selalu ada tantangan disetiap kehidupan, begitu pula pada metode belajar yang Yudis jalani. Ia penah dihadapkan pada pilihan melanjutkan les gitar untuk meniti cita-cita nya keliling dunia sebagai pemain gitar handal atau harus berhenti karena merasa tidak ada peningkatan keahlian dalam bermain gitar. Dan pilihan itu tentu ada ditangan Yudis yang saat itu berusia kurang dari 15 tahun. Dalam buku ini ada beberapa cerita kegagalan yang Yudis alami dan membuatnya belajar banyak dari kegagalan itu. Dan itulah yang selalu dibangun oleh orangtuanya, belajar dari keberhasilan sekaligus kegagalan

Jujur ya aku terhanyut membaca cerita tentang pengalaman Yudis belajar secara mandiri. Kagum dengan orangtua yang punya banyak cara untuk membuat pengalaman belajar anaknya jadi beragam dan mengasyikan. Belajar langsung praktik bukan hanya sekedar teori

Saat belajar tentang politik, Yudis dan Ibunya ikut turun kejalan melihat bagaimana situasi dan merasakan kampanye partai politik. Keasyikan belanja kepasar juga bisa jadi salah satu bentuk kegiatan belajar sama hal nya ketika Yudis memasak, jalan pagi dan banyak kegiatan lagi kegiatan keseharian sebagai penunjang life skill kelak.

Paling seru ketika Yudis belajar sambil jalan-jalan yang sering disebut oleh keluarganya dengan Travelschooling. Diceritakan saat travelschooling mereka mengunjungi rumah dengan eksterior yang biasa tapi pada halaman belakang ada sawah tempat bercocok tanam sendiri lengkap dengan sungai juga sapi. Berkunjung ke salah satu tempat usaha yaitu owener sepeda bambu Spedagi yang karya nya lebih terkenal di Jepang dan Eropa daripada di Indonesia. Wahhh kalau disuruh milih akupun mau belajar dengan cara seperti ini.hahah


Dalam buku Pembelajar Mandiri ini Yudis bercerita bahwa tidak ada kesulitan untuknya dalam bersosialisasi. Ia banyak ikut komunitas, Organisasi, klub kegiatan. Bahkan Yudis merasa pertemanannya cukup luas, tidak hanya berteman dengan teman yang seumur tapi juga berteman dengan yang lebih tua bahkan lebih muda dari umurnya. Prinsip yang dipegang yaitu saling menghormati dan saling menghargai.

Magang. Dalam bukunya Yudis menceritakan pengalaman magang di perusahaan teknologi tanpa koneksi dari orangtua maupun kenalan. Dengan portofolio yang dibuat, Yudis berhasil menjalankan magang di tiga tempat : Perusahaan Teknologi, Boardgame.id dan Magang sebagai Data Scientist.

Pada saat usia 18 tahun tibalah saat memilih antara bekerja, membuat usaha atau kuliah. Pilihan yang harus Yudis pikirkan secara benar karena akan berpengaruh pada kehidupannya. Nah pilihan mana yang dipilih oleh seorang Pembelajar Mandiri  sepertinya. Silahkan baca sendiri bukunya . heheh

Buku dengan 266 halaman, 5 bab, 43 sub bab ini dijamin ga buat bosen baca. Membacanya buat kita melek akan dunia pendidikan dan julur belajar yang tidak konvensional. Dari 5 bintang, buku ini aku kasi skore 4, karena buku ini paling sering aku baca  ketika butuh suntikan semangat untuk menjalankan Homeschooling di rumah.

4 komentar:

  1. Keren ya. Tapi aku gak sanggup rasanya jadi ibu homeschooler

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah sama pikirannya kayak aku ni, tapi aku lebih ga sanggup lagi liat anak ku belajar banyak tapi ga ahli dalam bidang apapun, kayak emaknya ini. hahahah

      Hapus
  2. Ya Allah luar biasa... Waktu belajar jadi optimal gitu ya karena semua yg dipelajari hanya yg dibutuhkan saja

    BalasHapus