Pengalaman Pahit Membeli Buku Bajakan

Masih di bulan Oktober yang merupakan bulan bahasa, jadi rasanya asik kalau kita membahas buku yaa.. :)
Nah, beberapa waktu lalu saya sempat baca di situs Mizan tentang maraknya buku bajakan yang beredar. Bahkan ada pameran atau bazar buku di sebuah daerah yang ternyata buku-buku yang dijual itu bajakan semua! Wadaw!

Ini mengingatkan saya pada pengalaman saya membeli buku bajakan beberapa tahun lalu. Back to the time when I still in college.. Saat itu sebagai mahasiswa yang mengandalkan cairnya dana beasiswa dan hasil ngajar privat, saya tetap ingin membaca buku untuk hiburan, tapi dengan harga murah. Sebelumnya saya tidak pernah beli buku bajakan, namun entah kenapa saya penasaran dan tergiur harga murah.

Akhirnya saya datangi toko buku di Blok M Square lantai basement. Yang pernah ke sana pasti tahu ya pasar buku di lantai basement itu. Ada yang asli, ada yang second, bajakan, baru, dsb. Saya hampiri sebuah toko yang menjual novel bajakan. Pilah-pilih sebentar, kemudian terjadilah transaksi. Saya lupa pasti harganya, mungkin sekitar 15-20 ribu per buku. It's so cheap! Saya beli tiga buah dan pulang dengan senang gembira. Namun apa yang saya dapatkan?

Setelah saya buka bungkus plastiknya, kok, ada bau-bau aneh ya? Ya! Bau bukunya tuh aneh banget! Dan memang baunya itu dari lembaran-lembaran kertas novel bajakan itu. Awalnya saya pikir, “yah, yaudah lah, cuma bau-bau dikit, tahan aja”. Tapi ternyata saya tidak tahan dengan bau tersebut. Yaiyalah, bayangkan saja, baca buku kan berarti berhadapan dengan buku tersebut tak lebih dari 30 cm, tentu saja baunya sangat menyengat. 

Ketiga novel bajakan tersebut pun tak habis saya baca. Sampai sekarang saya lupa entah di mana novel bajakan tersebut. Menyesal sekali membelinya. Kalau dipikir-pikir lagi, saya bisa beli satu buku asli alih-alih membeli tiga buku bajakan.

Selain itu, saya juga pernah membeli buku secara online, dan setelah buku itu sampai di tangan, saya curiga buku tersebut bajakan. Bukan, bukan karena bau, buku ini tidak bau, harganya pun tidak jauh beda dengan di Gramed (kayaknya). Tapi untuk ukuran buku terbitan GPU, kok kualitas kertas cover-nya jelek, dan kertas dalamnya pun lebih tipis. Karena itu saya curiga buku tersebut bajakan. Ini agak susah mendeteksinya siy kalau beli di online. Mungkin hanya dengan menelusuri review tokonya barulah bisa yakin buku yang dijual asli.

Setelah beberapa kali membeli buku bajakan, baik sengaja maupun tidak, saya cukup kapok dan enggan membeli buku bajakan lagi. Apalagi suami pun tipe yang selalu mendukung untuk membeli barang-barang yang original. 

Demikian sharing tentang buku asli vs bajakan. Semoga para pembaca yang budiman tidak melakukan kesalahan yang telah saya lakukan. Selamat membaca! Selamat bulan bahasa!

0 komentar:

Posting Komentar