Catatan dari Workshop Anger Management: Marah Itu Boleh, Tapi...

“Marah itu boleh, yang ngga boleh itu marah-marah.”

Kenapa saya meng-highlight kalimat ini? Karena seneng aja siy dengernya somehow. Haha.. But it’s true. Marah itu boleh lho buk ibuk, tapi ada syaratnya. Apa sih syaratnya?

Eits, sebelum membahas tentang term and condition untuk marah, saya akan cerita sedikit tentang Workshop Anger Management yang digelar oleh Ibu Profesional Batam kemarin. Workshop ini diisi oleh pasangan suami istri yang sangat menginspirasi yaitu Pak Dandi dan Ibu Diah. Beliau berdua rupanya saling mengenal sejak di bangku kuliah di Psikologi Unpad, dan menikah pada tahun 2003. Ketika Pak Dandi dan Bu Diah memulai workshop, saya berbisik pada kawan sebelah saya, “Bu Diah wajahnya cantik ya, seneng lihatnya, awet muda banget, mungkin karena jarang marah,” hehe..

Pak Dandi menjelaskan bahwa marah itu boleh dan marah adalah fitrah. Manusia memiliki emosi yang bisa senang, bisa juga marah. Namun yang tidak boleh adalah marah-marah. Sedangkan marah yang boleh adalah yang pada tempatnya, dengan kadar tepat, cara tepat, dan tepat sasaran. Atau dengan kata lain menjadi pribadi asertif yang bisa marah dengan ‘cara cantik’ dan tanpa merendahkan martabat diri sendiri maupun orang lain.

Sayangnya hal ini bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk bisa menjadi pribadi asertif diperlukan proses dan latihan, salah satu caranya dengan self healing therapy. Mengapa? Karena dengan self healing therapy artinya kita mengosongkan tangki emosi negatif yang menumpuk dalam diri kita. Jika tangki tersebut kosong atau tidak penuh, kita tak akan mudah marah-marah, dan lebih bisa berpikir jernih saat menghadapi masalah.

Contoh simpelnya, ketika orang tua sedang membawa tangki emosi negatif yang full, kemudian anak rewel. Padahal si anak rewelnya biasa saja, tapi si orang tua langsung meluapkan amarahnya. Kalau kata Pak Dandi dan Bu Diah, orang tua sudah membawa bensin, anak itu hanya korek. Kalau orang tua tidak bawa bensin, maka korek menyala pun tidak akan sampai meledak. Selain itu, kenali juga saat-saat lowbatt pada diri, yaitu kondisi yang bikin lebih sensitif atau gampang marah, misal sedang lapar, capek, ngantuk, dsb.

Yang tidak kalah menarik dari workshop kemarin adalah ketika diceritakan tentang kasus-kasus yang ditangani oleh Pak Dandi dan Bu Diah. Salah satunya, ada kasus seorang anak yang sangat membenci ibunya, bahkan ketika ibunya sudah meninggal pun ia tak mau mendoakannya. Ada juga yang walaupun mengaku sudah memaafkan ibunya, tapi masih berat hati untuk berbakti pada ibunya. Rupanya hal itu karena di lubuk hati terdalam ia belum sepenuhnya memaafkan sang ibu.

Belum mulai terapi saja saya sudah berkaca-kaca mendengar contoh-contoh kasus ini. Huhuuu..

Annnndd yang dinantikan pun tiba, saatnya self healing therapy. Kenapa perlu self healing? Karena marah atau emosi negatif adalah energi, dan energi itu tidak bisa hilang, energi harus dialirkan. Jadi kemarahan itu harus dialirkan bukan dialihkan. Noted banget untuk saya yang suka mengalihkan energi marah ke hal-hal lain seperti beberes, masak, dll. Ya, energi teralihkan, tapi hati belum lega, dan masalah tetap ada. Wkwk..

Untuk mengalirkan energi ini tak sekedar kata-kata, misal, memaafkan orang lain hanya dengan mengatakan “iya saya maafkan” atau “udah lupain aja” padahal dalam hati masih mengganjal. Ada empat tahapan untuk mengalirkan, yaitu 4A: Aware, Accept, Allow, Away. Dan empat langkah inilah yang dilakukan dalam self healing therapy.

Bagaimana cara self healing therapy? Secara singkat, self healing therapy diawali dengan memejamkan mata dan membolehkan diri untuk mengakses, mengingat kembali hal yang membuat marah, sedih, kecewa, dll. Kemudian membayangkan ulang ketika kejadian, seperti rekonstruksi kejadian dalam ingatan kita, sedetail yang kita bisa ingat. Lalu alirkan emosi yang tak dulu tak bisa kita alirkan, caranya dengan mengucapkan apa yang kita ingin, meneriakkan,  atau menggerakkan bagian tubuh, apa saja yang bisa membuat kita puas. Setelah itu tenangkan diri sendiri dengan membayangkan diri sedang menghadap cermin, dan katakan apa yang ingin Anda katakan pada diri sendiri. Terima diri, sayangi diri, motivasi diri, peluk diri sendiri. Kemudian pasrahkan pada Allah, dan iringi dengan doa terindah dari lubuk hati terdalam.

Self healing therapy (SEHAT) bersama Dandiah ini caranya tidak hanya dengan mengalirkan emosi negatif, tapi juga sambil mengetuk titik-titik tertentu pada tubuh, dan gerakan tertentu juga.


Kurang lebih seperti itu, tapi untuk lebih jelasnya mungkin bisa baca di bukunya Pak Dandi dan Bu Diah yang baru akan diluncurkan. Yeaayy!


Saya pribadi setelah terapi kemarin rasanya masih belum sepenuhnya plong. Dan kata Bu Diah tidak apa jika di akhir terapi kita belum bisa memaafkan orang yang menyakiti kita, karena memaafkan adalah proses. Terapi ini juga sebaiknya dilakukan sendiri di rumah secara teratur agar bisa menurunkan titik didih/emosi tubuh setiap harinya.

Tapi, walaupun belum sepenuhnya plong, alhamdulillah, saya merasa lebih happy siy. Semalam pun saya mimpi indah, bangun dengan mood yang baik, dan rasanya jadi lebih bisa menyikapi dengan tenang masalah yang sebelumnya bikin uring-uringan. Contoh, saya itu susah ngomong langsung sama suami tentang perasaan saya karena khawatir jadinya malah lebay dan drama  gitu. Tapi setelah terapi kemarin, saya jadi bisa mengutarakan perasaan saya dengan tenang, karena kata-kata penuh emosinya udah diungkapin pas terapi. Hahaha.. XD

"Orang yang bahagia adalah orang yang bisa menyembuhkan luka batinnya"


Dan satu hal lagi yang disampaikan dalam workshop kemarin, "orang yang bahagia adalah orang yang bisa menyembuhkan luka batinnya". So, bagi yang mengalami luka batin yang berat, Anda masih bisa bahagia! Dengan cara menyembuhkan luka batin tersebut. :)

Okay, so, that’s all i can write about the workshop. Thank you for reading. Dan semoga bermanfaat. :)

0 komentar:

Posting Komentar