Review Buku I Am Sarahza

Judul: I AM SARAHZA, Di Mana Ada Harapan Di Situ Ada Kehidupan
Penulis: Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra
Penerbit: Republika
Tahun terbit: April 2018
Jumlah halaman: 376 halaman
Harga: Rp75.000 / (Luar Pulau Jawa biasanya lebih mahal)



Akhirnya saya membeli buku ini. Sebenarnya sudah agak lama saya naksir buku ini. Namun tiap kali melihatnya di toko buku kok ngga nemu yang udah dibuka plastiknya. Haha. maksudnya kan biar bisa baca-baca dulu sedikit, biar ngga beli kucing dalam karung. Eh, minggu lalu pas ke toko buku kebetulan ada satu yang kebuka, langsung deh sikaat. Baca di tempat satu dua bab, and i decided to buy it. Sempat terpikir, ‘agak tebel nih, kapan sempet bacanya ya’. Ternyata dua hari kemudian udah kelar aja. Wkwk.. 

Ok, so, buku apakah ini? I Am Sarahza bercerita tentang perjuangan panjang Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra untuk bisa memiliki anak. Setelah 11 tahun menikah, pasangan suami istri ini akhirnya dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Sarahza Reashira.

Kesan

I love this book. Kisah nyata yang dihadirkan dalam format novel dengan tutur yang mengalir alami. Ada tiga sudut pandang yang digunakan dalam buku ini, sudut pandang Hanum sebagai tokoh utama, Rangga sebagai pendamping, dan Sarahza, yang dalam hal ini digunakan sebagai sudut pandang ketiga orang serba tahu. Pembaca bisa menikmati setiap bab perjalanan hidup keluarga ini dengan jelas dan pas. Tidak bertele-tele atau melebar ke sana-sini, namun juga tidak terburu-buru. Emosi pembaca pun ikut terhanyut dalam roller coaster perjuangan yang dijalani Hanum dan Rangga. Saya sangat tersentuh dan kagum dengan kesetiaan Rangga dan dukungannya dalam membesarkan hati istrinya dan mendukung istrinya mengembangkan diri dan potensi sehingga tidak melulu terpuruk dalam kesedihan. I Am Sarahza juga seolah menjadi behind the scene 99 Cahaya dan buku lain yang mendahuluinya. 

Kritik

Saya pribadi kurang sreg pada bab Sarahza yang digunakan sebagai sudut pandang ketiga orang serba tahu. Dinarasikan seolah sudah bisa bercerita, melihat, mendengar, mengetahui tentang kehidupan orangtuanya, sebelum dirinya lahir. Bahkan, seakan Sarahza mengetahui hal-hal yang gaib seperti malaikat, dsb. Tentu, ini semua hanyalah bumbu dramatisasi, namun tetap terasa ganjil karena porsinya yang cukup banyak.

Kemudian, saya merasa cerita tentang Sarahza-nya sendiri sangat kurang. Maksudnya, ketika Hanum akhirnya berhasil hamil, tidak diceritakan bagaimana ia menjalani kehamilan dan setelah melahirkan, perasaannya, dan apa saja yang dilakukan di awal-awal setelah melahirkan. Mengingat ini adalah kehamilan yang telah dinanti selama bertahun-tahun melalui perjuangan panjang. 


Pelajaran yang bisa diambil

Banyak. Ya, banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Diantaranya:
  • Mengajarkan untuk tidak putus asa. Saya ngga paham lagi bagaimana perasaan Hanum dengan berbagai kegagalan yang dihadapinya. Tapi dengan akhir yang bahagia, I Am Sarahza menunjukkan bahwa manusia memang tidak seharusnya berputus asa dan segala usaha wajib diikuti oleh kepasrahan pada ketentuan Allah.

  • Hati-hati dalam berbicara. Ya, at some point--that i won’t tell you here--, kisah ini kembali mengingatkan kita untuk tidak sembarangan berbicara karena bisa saja kata-kata tersebut diamini malaikat.

  • Bersabar menanti terkabulnya doa karena kita meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa. Hanya saja kita yang tidak tahu kapan dan bagaimana bentuk pengabulan tersebut.

  • Jangan fokus pada kegagalan. Seperti yang sudah saya tulis di atas, buku ini semacam behind the scene dari buku 99 Cahaya dan buku Hanum lainnya. Bahwa di balik kegagalannya dalam usaha mendapatkan momongan, Hanum mengalirkan emosi dan energinya menjadi bentuk karya yang bisa dinikmati banyak orang.

  • Lebih menghargai dan mencintai anak. Ini otomatis, karena ‘melihat’ bagaimana orang lain susah payah menginginkan seorang anak, masa’ saya yang sudah punya malah menyia-nyiakannya? Memarahi dan mengabaikannya? Walaupun tak lantas 100% membuat saya jadi orang yang tak pernah marah, but at least it’s easier not to angry now than before.


Overall, saya memberi buku ini 4⭐ dari 5, dan merekomendasikan buku ini untuk siapa saja, khususnya emak-emak dan bapak-bapak. :)

2 komentar:

  1. Sukaaa reviewnya... Aku juga udah baca, and I think so, maaak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya kan maakk.. aku smp mewek lhooo..tp lupa di bagian mana..wkwk..

      Hapus