Bertemu Sang Maestro

Dia akan datang. Ke sini. Ke kota tempat tinggalku sekarang. Haruskah aku menemuinya? Ah, untuk apa. Ia bukan siapa-siapa, bagiku. Tapi… kenapa ada sebagian dalam hati ini yang menolak alasan tersebut? Ada sebongkah keinginan untuk bertemu sosok itu lagi. Sosok yang dulu pernah menyemangati diri ini, walaupun tanpa ia disadari.

Tak perlu kuyakinkan hati, kaki ini seolah melangkah sendiri. Mendekat. Kutahu pasti ke mana arahnya. Haruskah kutahan? Berhenti? Ah, percuma saja. Aku tahu aku tak bisa. Aku tahu aku ingin mendengar kata-katanya lagi. Dan di sini lah aku berdiri, menemui sang maestro.

===================
Mak, ini ngomongin apa sih?😆

Hahaha.. Maafkan prolog yang aneh bin ajaib di atas ya, Mak. Mungkin efek samping setelah bertemu sang maestro. Siapa sih, sang maestro yang dimaksud? Saya yakin kita semua minimal pernah mendengar atau minimal tahu namanya: Tere Liye alias Darwis. 

Jadi, hari Minggu kemarin, Bang Tere--demikian para hadirin memanggilnya--datang ke Gramedia BCS dalam acara bincang buku Si Anak Badai dan book signing. Saya datang sekitar pukul 14.00, acara baru mulai pukul 15.00 WIB. Sudah ada beberapa orang yang datang dan duduk di area yang disediakan. Saya sendiri karena tidak berniat ikut acara sampai full, jadi saya tidak duduk. Dan saya pun menanti. Penantian yang terasa lama (#eaaaa), karena ngga bisa duduk, jadi udah pegel duluan, Mak.

Yang dinantikan pun tiba. Bang Tere datang mengenakan kaos oblong polos berwarna hijau lumut dan sarung hitam. Seketika kesan yang muncul adalah sederhana. Beliau datang berdua dengan seorang pria yang ternyata adalah kakak kandungnya sekaligus co author di beberapa bukunya. 

Mengawali acara, Bang Tere memperkenalkan diri dan meminta maaf karena memakai sarung dengan alasan baginya saat ini sarung adalah pakaian yang paling nyaman dan digunakan saat sholat juga. Acara kali ini sebenarnya bincang seputar buku terbarunya yaitu Si Anak Badai, tapi tentu saja tidak hanya itu. Beliau bercerita secara umum mengenai pengalaman menulis dan rencana kedepannya.

Telah ada 34 buku Tere Liye yang rilis dan saya belum pernah membaca satu pun. Untungnya tidak ada syarat “harus sudah baca bukunya” untuk boleh datang ke acara ini. So there I was. For what reason? Well, saya punya kesan tersendiri dengan sosok Tere Liye seperti yang pernah saya singgung di tulisan sebelumnya. Dan saya merasa kedatangannya kali ini ke Batam adalah takdir. Mungkin saya ditakdirkan termotivasi lagi dengan kata-katanya.

Lagipula, walaupun belum pernah membaca karyanya, saya tahu bahwa beliau adalah penulis hebat yang dimiliki Indonesia saat ini. Bagaimana tidak, beliau begitu produktif merilis buku setiap tahun. Tidak hanya satu, bisa dua atau tiga buku per tahun. Dengan banyaknya buku yang ingin dirilis, Bang Tere rupanya mulai merasa kewalahan, sehingga direkrutlah co author. Sekaligus sebagai cara beliau mencetak penulis-penulis baru.
Bincang buku bersama Tere Liye

Bincang buku Si Anak Badai tak memakan waktu lama. Hanya sekitar 15 menit. Setelahnya langsung sesi tanya jawab. Dari sinilah lahir banyak kalimat motivasi dari seorang Tere Liye. Ketika ada yang bertanya bagaimana menghasilkan cerita yang menarik, Bang Tere menjawab kuncinya adalah latihan. 
“Kalau Anda rutin latihan menulis setiap hari, sepuluh tahun dari sekarang Anda bisa sama produktifnya dengan saya,” kurang lebih begitu kata Bang Tere.

Dan saat ada yang bertanya cara mengatasi writer’s block, Bang Tere punya jawaban unik. “Ternyata setiap jaman punya istilah sendiri untuk menyebut ‘malas’.” Wkwkwk. Jadi menurut Bang Tere, mengatasi writer’s block ya dengan terus menulis. Bukan menunggu mood atau menunggu inspirasi. Menulis saja walaupun hanya sedikit, tapi rutin minimal setengah jam sehari.
“Ternyata setiap jaman punya istilah sendiri untuk menyebut ‘malas’.”
Bang Tere sempat membahas tentang dua masalah di Indonesia yaitu kurangnya minat baca dan kurangnya penulis yang produktif. Maka salah satu cita-citanya adalah melahirkan penulis-penulis baru. Dan jangan kaget ya kalau besok-besok Bang Tere merilis buku dengan genre baru. Karena memang beliau ingin membuat banyak seri dengan genre yang berbeda-beda, kemudian merekrut co author di genre tersebut, sehingga nantinya para penulis baru bisa melanjutkan serinya. Contohnya kalau di luar negeri ada Marvel dan Donald Duck, dua seri yang author-nya sudah meninggal, namun seri terbarunya tetap muncul karena telah penulis penerusnya. 

Acara tanya jawab terasa sangat berisi namun tetap menghibur. Bang Tere sungguh bisa menjawab dengan apa adanya, dan dibumbui kelakar. Sayangnya kaki saya sudah pegel banget berdiri. Ditambah ada dua lelaki yang menunggu di luar. Jadilah saya putuskan untuk pulang dengan harapan semoga bisa bertemu lagi di kesempatan lain yang lebih baik.

0 komentar:

Posting Komentar