Manajemen Emosi: Agar Bunda Tidak Gampang Marah

“Bunda, jangan marah ya..”
Bayangkan ketika anak Anda yang masih kecil mengatakan kalimat diatas dengan suara pelan, karena takut dan sedih, ditambah mata berkaca-kaca akibat bentakan Anda. Kalau saya mungkin langsung nangis karena diselimuti penyesalan. Tapi entahlah, saat ini anak saya baru berusia dua tahun dan belum bisa mengatakan kalimat tersebut. Namun ketika saya marah, dan anak saya terdiam, itu saja sudah membuat saya sungguh menyesal. Walaupun tak berarti saya tak mengulanginya lagi di lain waktu.

Penyesalan demi penyesalan setelah marah-marah telah saya lewati. Sampai saya lelah dan mencari tahu, bagaimana mengatasi ini semua? Apakah ada yang merasakan sama seperti saya? Apakah Bunda juga ingin mengatur emosi terhadap anak? Yuk, belajar bersama, perlahan-lahan. Berikut beberapa cara memulai mengatur emosi yang meledak-ledak di depan anak.

Satu hal yang terpenting dari langkah awal mengatur emosi ini adalah berdoa dan memohon pada Allah. Seringkali saya lupa, dan mengandalkan diri sendiri untuk menahan emosi. Tapi saya tidak mampu. Tidak akan mampu. Karena tak ada yang mudah kecuali yang Allah mudahkan. Karena itu, yuk, kita awali proses perbaikan ini dengan berdoa kepada Allah agar diberi kemampuan dan kemudahan. Bismillah…

Hal yang paling penting untuk bisa mengontrol emosi kita adalah SELF AWARENESS. Self awareness berarti memahami diri sendiri. Kita harus mengetahui apa-apa yang bisa membuat kita marah, kapan kita rentan marah, dan apa yang biasanya kita lakukan saat marah. Jika kita sudah mengenali diri kita, maka kita bisa menemukan solusi atas kemarahan kita.

Selanjutnya, apa yang bisa kita lakukan ketika kemarahan itu menyerang, dan dorongan untuk membentak anak muncul begitu kuat? Ada beberapa tips yang saya temui di dunia maya.

  • Menerima perasaan kita

Bunda, sebelum bisa memahami perasaan anak, kita harus memahami dan menerima perasaan kita sendiri. Jika sedang marah, maka sadari bahwa kita sedang marah. Dan apa yang bisa dilakukan ketika marah? Jika berdiri, kita sebaiknya duduk, jika duduk, sebaiknya kita berbaring. Iringi dengan mengatur napas dan memohon perlindungan pada Allah. Ini memberikan diri kita waktu untuk kembali berpikir jernih.

  • Cari alternatif sebaliknya atau pengalihan

Saat kita marah, inginnya mengeluarkan semua emosi melalui kata-kata. Tapi cobalah melakukan sebaliknya. Ketika sedang ingin marah pada anak, peluk mereka dengan hangat, cium keningnya dan doakan kebaikan. Eits, ini bukan berarti menuruti keinginan anak yang tak sesuai prinsip atau aturan kita ya.

  • Time Out

 Adakalanya kemarahan sudah terlalu memuncak, dan tak bisa mencari alternatif, maka ambillah time out. Menjauh sebentar dari anak, masuk ke dalam kamar, dan menenangkan diri. Cara ini tentu lebih mungkin dilakukan jika ada orang lain yang mendampingi, misalnya suami.

Tak perlu langsung menargetkan tidak akan marah-marah sama sekali, that might seem too hard, for me especially. Cukup diawali dengan, misal, tidak marah lebih dari sekali dalam satu hari. Atau tidak lebih dari tiga kali dalam seminggu.

Semoga kita selalu bersemangat memperbaiki diri. Karena, seperti tulisan Claire Lerner, seorang spesialis perkembangan anak;
Children need our assistance, not our anger

Yuk, mari kita sama-sama belajar untuk mengatur emosi! Bismillah...


Sumber:
https://www.studenthealth.gov.hk/english/resources/resources_bl/files/lf_ph_ei.pdf , diakses 7 Feb 2019, 23.26
Claire Lerner, L.C.S.W.-C.Managing Your Own Emotions: The Key to Positive, Effective Parenting. http://www.pbs.org/parents/expert-tips-advice/2016/03/managing-emotions-key-positive-effective-parenting/, diakses 7 feb 2019, 23.37



8 komentar:

  1. Manajemen Emosi memang penting, kadang aku sendiri juga ngerasain. Trus kalau lihat anak-anak tidur jadi muhasabah diri. Artikel MANAJEMEN EMOSI: AGAR BUNDA TIDAK GAMPANG MARAH ini memang sangat diperlukan untuk menghadapi tinggah anak yang sedang tumbuh kembang.

    BalasHapus
  2. Penting sekali Manajemen Emosi ini. Bekal kami yg Insya Allah akan dikaruniakan anak. Maturnuwuun

    BalasHapus
  3. Kalau anak saya jika melakukan kesalahan datang pelan-pelan sambil berbisik "Bunda jangan marah ya," duh suka meleleh. Dia sudah tahu konsekuensinya jika melakukan kesalahan.bundanya akan marah. Tapi ya saya gak jadi marah ��

    BalasHapus
  4. MasyaAllah mbak, menyentuh. Aku pernah tuh anak bilang gitu, "Umi, jangan marah.", "Umi, jangan sedih.". Ahh, anak-anak yaahh...

    BalasHapus
  5. Wah emang manajemen emosi itu perlu banget sih kak. Ga cuma ibu doang, tp semua orang. Tapi emang kalau jadi ibu banyak banget yah kak yang di persiapkannya :')

    BalasHapus
  6. Ehm.... Marah kayaknya udah jadi bagian dari kehidupan emak-emak... Apalagi kl si emak byk kerjaan dan si anak susah diajak kerjasama.... Hehehhee... Memang nyesel kl marahi anak, tapi kadang emosi gak tertahan juga, sesekali pasti muncul... Moga bisa jadi emak yg Lebih sabar...

    BalasHapus
  7. "Children need our assistance, not our anger" serasa dejavu langsung ingat adek gua yang baru jadi ibu. She told me like that. *duuuh langsung pengen jadi ibu2 aja rasanya.


    Tapi memang kunci dari semuanya, not only for children, tapi juga untuk mengatasi semua: Manajemen emosi lebih penting ya mbak. Meski pun gua blom jadi ibu2 tapi ini tulisan juga berguna banget buat gua.

    BalasHapus
  8. Baiklah Mama thole
    Akan ku praktekkan

    Walau sebagian sudah kulakukan.
    Namun selalu gagal nahan marah
    Hiks

    BalasHapus