Bunda, Lakukan Ini Ketika Anak Susah Makan

ketika anak susah makan
(Ketika Anak Susah Makan)
Anak susah makan atau bahasa kerennya Gerakan Tutup Mulut (GTM) adalah sebuah keadaan yang seringkali membuat orang tua stres, khususnya para ibu. Mengapa? Salah satunya tentu karena kekhawatiran ibu jika asupan gizi anaknya tidak cukup karena anaknya susah makan.
Saya pribadi bukan termasuk ibu-ibu yang langsung stres ketika anak susah makan. Karena sejauh ini, jika anak saya susah makan, hal itu tidak bertahan lama. Mungkin hanya sekitar 3 hari atau paling lama seminggu. Sehingga menurut saya, anak susah makan hanya sebuah fase yang akan berlalu. Namun di sisi lain, banyak anak-anak yang bertahan dengan GTM-nya sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Kalau begini sih ibu mana yang ngga stres yak. Tapi seorang ibu jangan lekas panik. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan ketika anak susah makan. Pertama, dan yang utama, adalah berdoa. Ya, berdoa. Karena tak ada hal yang mudah melainkan yang Allah mudahkan. Jadi, mohonlah pada Allah agar anak kita mau makan, tidak picky eater. Atau tidak berlama-lama dalam kondisi GTM. Amati dan cari tau sebab kenapa anak susah makan. Sepengamatan saya pada anak saya sendiri, ada beberapa penyebab dia tidak mau makan. Misalnya bosan atau tidak mood. Khususnya pada makanan yang biasanya dia mau, tapi kok tiba-tiba tidak mau? Oh, kemungkinan besar dia bosan atau tidak mood. Selain itu, bisa saja anak tidak mau makan karena sedang kesal. Iya lho, kalau si bocil ini lagi ngambek, marah, makanan paling enak pun bakal dilemparnya. Kalau sudah begini, cara paling ampuh adalah mengajaknya main mainan yang dia suka. Atau ajak main dengan teman. Ketika dia sudah tidak ngambek, makanan bisa masuk dengan mudah, insyaallah. Selanjutnya adalah mengkreasikan makanan. Ini salah satu yang bisa dilakukan orang tua, yaitu dengan mengkreasikan makanan, baik dari segi bahan makanan, maupun olahan. Misalnya nasi, mungkin anak bosan dengan nasi putih, maka saya buatkan nasi goreng. Atau nasi liwet. Jika sepertinya dia bosan dengan nasi, apapun itu olahannya, maka saya beralih pada bihun, atau miesoa, atau mie telor. Atau kentang, jagung, dan oatmeal. Karena semua ini sama-sama sumber karbohidrat, jadi posisinya bisa saling digantikan. Tak perlu terpaku anak harus makan nasi. Selain hal-hal yang bisa dilakukan seperti diatas, ada satu hal yang menurut saya sebaiknya tidak dilakukan oleh orang tua ketika anak susah makan, yaitu memaksa anak makan dengan cara memegangi mulutnya dan menyuapi makanan secara paksa. Bagi saya, makan seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan. Karena itu saya ingin anak saya pun merasa senang ketika makan. Namun jika dipaksa, mana mungkin anak merasa senang? Mungkin anak akhirnya menelan makanan, tapi bukan tak mungkin dia akan menjadi trauma dan tetap saja GTM. Selain itu, memaksa anak makan dengan cara mencekoki bisa berbahaya karena berisiko tersedak. Apalagi jika anak menangis dan meronta-ronta. Duh, kasihan sekali. Kemudian, mengenai konsumsi jajanan. Saya bukan tipe yang terlalu membatasi jajanan, anak cenderung saya bolehkan makan jajanan seperti kue-kue atau snack ringan. Akan tetapi, konsumsi jajanan ini tetap harus dikontrol, terutama ketika anak susah makan. Saya tidak berikan jajanan yang gurih-gurih jika dia belum makan besar. Karena khawatir dia akan merasa kenyang dari jajanan dan tambah tidak mau makan. Satu lagi yang saya coba lakukan adalah berpositif thinking. Sambil berusaha, sambil yakin bahwa anak susah makan tidak akan berlangsung lama. Sambil yakin bahwa kebutuhan gizinya bisa dipenuhi dengan sumber-sumber lain sebagai substitusi. Sambil yakin bahwa Allah akan mudahkan. Insyaallah. Semoga tulisan singkat ini bisa bermanfaat ya, Bunda.

0 komentar:

Posting Komentar