Hari-hari Kelam:Sembelit pada Bayi (part I)

“Beneran Mbak, anaknya pernah dua minggu sekali baru BAB?” tanya seorang kawan. “Iya Mba.”
Obrolan itu berlanjut dengan bagaimana mengatasi sembelit pada bayi. Kebetulan kawan saya itu sedang mengalaminya. Anak pertamanya sudah beberapa hari tidak BAB, dan tiap kali BAB kesakitan. Ia bingung dan bertanya pada kawan-kawan sesama ibu. Saya pun menceritakan pengalaman dalam menghadapi hari-hari kelam tersebut, ketika bayi saya mengalami sembelit.



Awalnya ketika usia sekitar tiga bulan, bayi saya yang awalnya hampir tiap hari BAB mulai jarang BAB. Hanya setiap 3 hari sekali, kemudian 4 hari sekali, bahkan seminggu sekali. Awalnya saya masih agak santai, karena saat itu bayi saya masih ASI eksklusif. Menurut beberapa sumber, bayi yang ASI eksklusif bisa saja BAB hanya seminggu sekali. Lagipula, walaupun seminggu sekali, namun BAB-nya masih biasa saja, tidak keras atau sakit. Saya pun tenang.

Hari-hari berlalu, tibalah waktunya memberikan makanan pendamping ASI. hasil browsing dan tanya sana-sini, saya mengikuti pedoman WHO yaitu 4 bintang dalam memberikan makanan pendamping ASI pada bayi saya. Dia makan dengan lahapnya. Rasanya semua yang saya berikan dia terima saja saat itu. Sayangnya, yang masuk ke perutnya banyak, tapi kok BAB-nya ga lancar ya? Perlahan, sembelit itu menghampiri.

Setiap kali BAB, bayi saya mengejan keras, berusaha sekuat tenaga, sampai-sampai mukanya merah semua. Bagaimana tidak, wong seminggu sekali, bahkan sepuluh hari sekali, baru BAB. pasti sudah menumpuk kotoran di ujung pencernaannya itu. Sampai akhirnya frekuensi BAB-nya menjadi dua minggu sekali. Waduh! Gimana nih? Apa salah kasih makan ya? Kebanyakan makan? Kurang minum? Atau saya yang salah makan? Katanya kan makanan ibu mempengaruhi ASI. Berbagai pikiran tersebut menyeruak di kepala saya. Tak berlama-lama, saya konsultasi ke dokter.

Konsultasi pertama, usia bayi saya sekitar 7 bulan, dokter menanyakan apa yang dimakan bayi saya. Saya pun mengatakan sesuai yang saya berikan yaitu buah, nasi/jagung/kentang, tahu/tempe, ayam/telur/ikan, dan sayuran. Tentunya dalam bentuk makanan saring ya. Dokter tidak memberi obat dan hanya menyarankan menambah sayur, buah, dan ASI, karena mungkin kurang minum.

Sembelit itu terus berlanjut sampai pada titik terparahnya yaitu bayi saya menangis tiap kali BAB (yang hanya dua minggu sekali itu) dan ada darah di pup-nya. Saya perhatikan, darah ini bukan dari pencernaannya, tapi dari bagian anusnya yang luka karena terlalu kuat mengejan, dan memang pup-nya padat, keras. Saya kembali menemui dokter, tapi berbeda dengan yang pertama.

Dokter kedua ini memberikan obat minum untuk pelunak BAB, dan obat untuk dioles di sekitar anus tiap kali akan BAB. Obat oles ini, menurut dokter, fungsinya sebagai bius lokal, sehingga bayi tidak merasa sakit saat ini. Well, saya pikir ini bagus nih, berharap kondisi sembelit pada bayi saya bisa membaik. Namun yang terjadi justru sebaliknya. BAB-nya masih tetap keras dan sakit, ditambah lagi batuk. Kok batuk? Ya, karena obat sirup yang diberikan memang manis, dan dosisnya cukup besar menurut saya untuk bayi, yaitu 1 sendok teh. Ini jumlah yang besar karena biasanya meminumkan obat satu atau dua mililiter saja susah banget. Apalagi ini satu sendok teh! Alhasil tiap kali disuapi, bayi saya terbatuk-batuk, dan lama-lama batuk beneran. Eh, ini hanya secara pengamatan saya ya, kalo secara ilmiahnya entah gimana prosesnya bisa begitu.

Saya kembali ke dokter lagi, kali ini dokter yang sama dengan yang pertama, namun bukan dengan keluhan sembelit, melainkan batuk. Dokter memberikan obat. Kemudian saya menanyakan juga masalah sembelitnya. Dokter memberikan resep obat sembelit, akan tetapi kata dokter nanti saja setelah batuknya sembuh. Mungkin agar tidak kebanyakan obat di satu waktu.

Hari-hari kelam sulit BAB terus berjalan. Sampai akhirnya libur lebaran tahun 2017. Ketika itu lah kami menemukan titik terang dari perjalanan panjang nan berat ini….

(Bersambung di postingan selanjutnya ya. )

1 komentar: